Harga sapi 2026 menjadi salah satu informasi yang banyak dicari peternak, pedagang, maupun masyarakat yang ingin membeli ternak. Berdasarkan data SIMPONI Ternak yang diperbarui 21 Agustus 2026, harga sapi hidup tingkat produsen di Jawa Timur tercatat Rp57.006 per kilogram bobot hidup, sedangkan harga acuan pemerintah berada di angka Rp59.950 per kilogram.
Untuk pedet, harga sangat bergantung pada umur, jenis kelamin, bangsa, dan kualitas ternak. Data TaniKU Kabupaten Kulon Progo yang diperbarui 26 Agustus 2026 menunjukkan pedet jantan Simental/Limousin umur 3–5 bulan memiliki harga jual terendah Rp6 juta per ekor, sedangkan angka harga tertingginya pada laman tersebut tercantum Rp11.500,00 dan tampak tidak konsisten dengan format harga lainnya, sehingga angka tersebut perlu dikonfirmasi sebelum dipublikasikan sebagai harga Rp11,5 juta.
Harga Sapi 2026 Berapa Sekarang?
Harga sapi hidup pada 2026 berada di kisaran Rp50 ribuan hingga Rp60 ribuan per kilogram di sejumlah provinsi, dengan Jawa Timur tercatat Rp57.006/kg pada pembaruan 21 Agustus 2026. Angka tersebut merupakan harga di tingkat produsen untuk komoditas sapi hidup, bukan harga daging sapi di pasar.
Data SIMPONI Ternak menunjukkan harga sapi hidup berbeda antarprovinsi. Pada pembaruan tersebut, harga tertinggi tercatat di Kalimantan Selatan sebesar Rp63.500/kg, sedangkan Jawa Timur berada di Rp57.006/kg. Harga acuan pembelian yang tercantum untuk sapi adalah Rp59.950/kg.
Perbedaan harga tersebut menunjukkan bahwa harga sapi tidak bisa disamaratakan secara nasional. Kondisi pasar lokal, pasokan, permintaan, kualitas ternak, bobot badan, serta biaya distribusi dapat memengaruhi nilai jual sapi.
[DATA/ANGKA]
Harga sapi hidup Jawa Timur: Rp57.006/kg bobot hidup
Pembaruan data: 21 Agustus 2026
Harga acuan: Rp59.950/kg
Berapa Harga Sapi di Jawa Timur?
Harga sapi hidup tingkat produsen di Jawa Timur tercatat Rp57.006/kg berdasarkan data SIMPONI Ternak per 21 Agustus 2026. Nilai tersebut berada di bawah harga acuan Rp59.950/kg dengan status penurunan 4,91 persen pada data yang ditampilkan.
Namun, masyarakat yang ingin membeli sapi per ekor sebaiknya tidak hanya menggunakan harga per kilogram sebagai patokan. Harga seekor sapi juga dipengaruhi bobot, jenis atau bangsa, umur, jenis kelamin, kondisi tubuh, kesehatan, serta tujuan pemeliharaan.
Sebagai gambaran, sapi dengan bobot dan kualitas berbeda tentu memiliki harga per ekor yang berbeda pula. Karena itu, calon pembeli sebaiknya menanyakan bobot sapi secara langsung dan membandingkan beberapa penawaran sebelum melakukan transaksi.
Untuk memperoleh angka terbaru, pembaca dapat memantau SIMPONI Ternak – Sistem Informasi Monitoring Harga Peternakan Nasional, yang menyediakan informasi harga komoditas peternakan berdasarkan wilayah dan waktu pembaruan.
Berapa Kisaran Harga Pedet Saat Ini?
Harga pedet sangat bervariasi, tetapi data TaniKU Kabupaten Kulon Progo memberikan gambaran harga berdasarkan umur, jenis kelamin, dan bangsa sapi. Pada data yang diperbarui 26 Agustus 2026, pedet jantan Simental/Limousin umur 3–5 bulan tercatat memiliki harga jual terendah Rp6 juta per ekor.
Untuk pedet jantan Simental/Limousin, laman TaniKU mencantumkan harga jual tertinggi Rp11.500,00. Karena format angka tersebut tidak sejalan dengan harga lain dalam tabel, angka tersebut sebaiknya tidak langsung ditafsirkan sebagai Rp11,5 juta tanpa konfirmasi kepada pengelola data.
Sementara itu, data yang sama mencatat pedet jantan sapi putih umur 3–5 bulan dengan harga jual Rp5,5 juta hingga Rp6,5 juta per ekor. Untuk pedet betina Simental/Limousin, harga jual tercatat Rp5 juta hingga Rp8 juta per ekor, sedangkan pedet betina putih tercatat Rp4,9 juta hingga Rp8,5 juta per ekor.
Data tersebut merupakan harga di Kabupaten Kulon Progo dan tidak dapat dianggap sebagai harga pedet nasional. Harga di Jawa Timur maupun daerah lain bisa berbeda.
[LINK RUJUKAN]
TaniKU Kabupaten Kulon Progo – Harga Sapi
Berapa Harga Daging Sapi Sekarang?
Harga daging sapi di tingkat konsumen secara nasional berada di sekitar Rp143.601/kg berdasarkan pemantauan Bapanas hingga 22 Juli 2026, sementara daging premium di sejumlah titik dapat mencapai Rp160.000–Rp180.000/kg. Bapanas menegaskan bahwa harga Rp160.000–Rp180.000/kg umumnya merupakan produk premium, misalnya has dalam yang telah dibersihkan dari lemak, sehingga tidak dapat dijadikan gambaran harga seluruh daging sapi di pasar.
Bapanas juga menjelaskan bahwa harga daging sapi perlu dilihat berdasarkan jenis dan kualitasnya. Harga yang lebih tinggi tidak selalu berarti terjadi kenaikan harga pada komoditas yang diatur pemerintah karena daging premium atau potongan khusus memiliki karakteristik dan harga tersendiri.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa harga Rp160.000/kg yang ditemukan di sejumlah pasar merupakan daging dengan spesifikasi premium, seperti has dalam yang sudah dibersihkan dari lemak.
Bapanas juga mencatat bahwa kebutuhan daging sapi nasional pada 2026 diproyeksikan sebesar 794,29 ribu ton, sedangkan produksi sapi dan kerbau lokal diperkirakan menghasilkan setara 421,21 ribu ton daging. Pemenuhan kebutuhan dilakukan melalui kombinasi produksi dalam negeri dan pasokan dari luar.
Mengapa Harga Sapi dan Daging Sapi Berbeda?
Harga sapi hidup tidak sama dengan harga daging sapi karena keduanya berada pada tahapan rantai pasok yang berbeda. Harga sapi hidup dihitung berdasarkan bobot hidup, sedangkan harga daging telah dipengaruhi proses pemotongan, rendemen karkas, distribusi, jenis potongan, serta kualitas daging.
Bapanas pada Maret 2026 juga menjelaskan bahwa harga sapi hidup di feedlot sekitar Rp55.000/kg dan di rumah potong hewan sekitar Rp56.000/kg, sedangkan harga karkas berada di kisaran Rp106.000–Rp107.000/kg.
Artinya, masyarakat tidak tepat jika langsung membandingkan harga sapi hidup per kilogram dengan harga daging eceran per kilogram. Ada proses dan biaya yang terjadi di antara kedua titik tersebut.
Apa Saja yang Memengaruhi Harga Sapi 2026?
Harga sapi dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya bobot badan. Beberapa faktor utamanya adalah bangsa sapi, umur, jenis kelamin, kondisi kesehatan, kualitas fisik, permintaan pasar, ketersediaan ternak, biaya pakan, serta biaya transportasi.
Momen tertentu seperti Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha juga dapat meningkatkan permintaan. Karena itu, harga yang ditemukan hari ini belum tentu sama dengan harga beberapa minggu atau bulan berikutnya.
Bagi peternak, pemantauan harga secara berkala penting untuk menentukan waktu penjualan. Sementara bagi pembeli, membandingkan harga berdasarkan bobot dan kualitas dapat membantu mendapatkan ternak dengan nilai yang lebih sesuai.
Tips Mengecek Harga Sapi Sebelum Membeli
Cara paling aman adalah membandingkan harga terbaru dengan kondisi fisik sapi dan bobot sebenarnya. Jangan hanya berpatokan pada harga per ekor.
Pembeli dapat melakukan beberapa langkah sederhana: mengecek harga dari sumber resmi, menimbang atau memperkirakan bobot sapi secara akurat, memeriksa kondisi kesehatan, membandingkan beberapa penjual, serta memperhitungkan biaya transportasi dan pemeliharaan.
Harga dari sumber pemerintah juga sebaiknya dipahami sebagai referensi berdasarkan lokasi dan tingkat perdagangan tertentu, bukan sebagai harga yang otomatis berlaku untuk seluruh pasar.
Kesimpulan
Harga sapi 2026 masih menunjukkan perbedaan antarwilayah dan jenis ternak. Di Jawa Timur, harga sapi hidup tingkat produsen tercatat Rp57.006/kg pada 21 Agustus 2026. Sementara harga pedet berbeda berdasarkan bangsa, umur, dan jenis kelamin; data TaniKU Kulon Progo dapat menjadi salah satu referensi regional, dengan catatan terdapat satu angka harga tertinggi pedet jantan Simental/Limousin yang perlu dikonfirmasi karena format datanya tidak konsisten.
Untuk daging sapi, Bapanas mencatat rata-rata nasional Rp143.601/kg hingga 22 Juli 2026, sedangkan produk premium dapat mencapai Rp160.000–Rp180.000/kg.
Dengan demikian, sebelum membeli atau menjual sapi, penting untuk selalu melihat tanggal pembaruan data, lokasi, jenis sapi, bobot, serta kualitas ternak. Harga dapat berubah mengikuti kondisi pasar.

sapi potong kurban 2026
Sumber rujukan: